Teman Tanpa Syarat

Di sebuah negeri antah berantah ada sebuah perbincangan antara dua orang yang baru bertemu.

“Aku mau jadi temanmu dengan syarat.” Ujar salah seorang kepada lawan bicaranya.

“Apa syaratnya?” Tanya orang itu

“Kalau kamu jadi temanku, kamu harus ada di kala aku membutuhkanmu, kamu mau menolongku, memberi hutang kepadaku, mau mengusap air mataku… “

“Kalau aku tidak bisa bagaimana?”

“Kamu tak bisa jadi temanku…”

Apakah teman butuh syarat?

Aku berteman denganmu dengan syarat, jangan biarkan aku sendiri dan jangan pernah menyakitiku karena kamu tahu aku

Aku berteman denganmu dengan syarat, akan kau berikan pundakmu untuk aku menangis

Aku berteman denganmu dengan syarat, pinjamkan aku uang yang banyak, maka kau temanku.

Aku berteman denganmu dengan syarat, berikan aku kejutan menyenangkan, kebahagiaan yang indah.

Aku berteman denganmu dengan syarat, kau jawab semua sms-ku, kau angkat telepon aku dan tak kau biarkan aku sendiri.

“Inikah syarat itu?”

“Iya”

“Harus kupenuhi?”

“Iya”

****

Di tempat yang tak jauh, seorang laki-laki berbincang seru dan hangat dengan seorang wanita. Tetapi, tiba-tiba sang wanita memberi ultimatum.

“Ingat, kita hanya berteman, tidak lebih”

“Maksudnya?”

“Jangan sampai kau menyukai aku, dan aku menyukai kamu…”

“Memangnya kenapa?”

“Karena itu tidak tulus, pertemanan yang tidak tulus.”

Tulus? Seperti apa itu?

Kalau kau ingin jadi temanku, tolong jangan pernah anggap aku kekasihmu

Kalau kau ingin jadi temanku, jangan pernah berharap aku mencintaimu

Kalau kau ingin jadi temanku, aku tak pernah mau menerima cintamu

Kalau kau ingin terus jadi temanku, mulai saat ini Tanya perasaanmu, apakah mungkin kau suka padaku, kalau tidak… lebih baik kita tak beteman…

“Ini sebuah peringatan?”

“Iya”

“Tak bisa diganggu gugat?”

“Iya, karena aku mau ketulusan.”

“Tapi, salahkah dengan perasaan yang mungkin hadir”

“salah”

****

Hei, Fren…gimana kau menanggapi pernyataan tadi? Tentu kamu ga setuju, kan? Hitungan banget, sih jadi orang…hehehehe. Atau kemudian kamu jadi berpikir… Jangan-jangan secara tersirat, kamu telah mengajukan berbagai macam syarat itu kepada teman-teman kamu. Atau karena berbagai pengalaman yang ada, kamu merasa cinta yang hadir dalam pertemanan tidaklah tulus hingga harus ada syarat-syarat itu? Hmm, silakan direnungkan…

Apakah arti sebuah teman bagimu? Pertanyaan itu timbul di benak saya begitu saja. Teman adalah sosok-sosok terdekat saya setelah keluarga. Ada sebuah ikatan batin hingga saya bisa berteman dengan banyak orang. Semacam chemistry. Saya sangat senang berteman, saya menerima semua ajakan pertemanan dari mana pun, dari dunia maya sekalipun. Tapi, apakah saya orang yang menyenangkan? Entahlah… apakah ukuran punya banyak teman berarti dia menyenangkan. Lalu, apakah saya tulus? Tanpa syarat? Entahlah…

Saya coba menelusuri pertemanan saya dengan beberapa orang, teman tanpa batas ruang dan waktu, dalam arti, walau udah sama-sama ga satu sekolah, walau udah sama-sama ga satu kantor, kami tetap berteman. Saya pernah menyakiti mereka, saya pernah bikin mereka menangis, kadang sikap saya ke mereka sangat menyebalkan. Pernahkah saya sakit hati kepada mereka? Pernah… Bahkan saya pernah sebal dengan mereka. Pertengkaran menjadi makanan sehari-hari saya dengan mereka saat itu.

Tapi, apakah mereka masih jadi teman saya? Ya, hingga hari ini kami masih bersama, baru saja kami berbuka puasa bersama. Kami bertahan beberapa tahun terakhir dengan berbagai macam pernik-pernik. Tanpa ada pernyataan, kami akan kembali berbagi, menegur kesalahan kami, mencari titik terang, menginap bersama. Mengirim sms-sms manis atau hikmah. Secara tersirat, kami saling menyayangi tanpa berusaha untuk mengungkapkan.

Kemudian, teman saya pun bertambah, dan terus bertambah… Alhamdulillah, ada yang bertahan, ada yang numpang lewat, ada yang mucul dan menghilang. Mereka membagi banyak hal kepada saya. mereka memberikan ketulusan indah. Mereka memuji saya, memberi oleh-oleh, memberi hadiah, mentraktir saya, mengirim sms, mengirim email, menelepon, mengkritik, memotivasi, memarahi, mengingatkan… Semua teman yang saya kenal di mana pun… terima kasih, semoga Allah membalasnya…

Sementara saya masih apa adanya diri saya. Saya masih suka lupa tanggal lahir teman saya, lupa mengingat janji saya, lupa membalas sms dan mungkin tak hadir ketika teman saya butuh cerita.

Saya cuma manusia, tak bisa memberi banyak dengan keterbatasan saya, tapi saya akan sangat gembira, ketika saya mampu untuk lebih baik memperbaiki hubungan pertemanan saya.

Saya akan tersanjung ketika teman saya “marah-marah” menunjukkan dirinya tengah memarahi orang, curhat dengan bebasnya, menunjuk saya mendengarkan keluh kesahnya pada batasan tertentu.

Saya akan ikut senang ketika teman saya mau menerima sedikit pemberian saya, karena sering dengan sok tahunya saya mengirim “barang unik/aneh” ke teman-teman saya. Saya akan ikut sedih, ketika teman saya bersedih, menangis, marah dan kesal… dan ingin ikut berempati.

Teman, mungkin saya tak hadir ketika kamu butuh saya, tolong maafkan saya…

Teman, mungkin saya hanya bisa mendengarkan dan tak banyak membantu ketika di tengah kesulitan, tolong maafkan saya.

Teman, saya sangat jahat membuatmu menangis, sakit, marah, kesal. Mulut saya mungkin telah jahat menghina, tolong maafkan saya,

Teman, saya nakal, iseng tidak pada tepatnya, tolong maafkan saya

Teman, mungkin saya pernah menyukai kamu hingga kamu merasa tak nyaman. Saya tak pernah tahu perasaan itu hadir, yang jelas saya sadar saya cuma manusia. Apakah dengan begini saya tidak tulus? Tolong maafkan saya.

Teman, saya pernah menuntutmu lebih ketika saya bersedih dan membutuhkan kamu hadir, padahal kamu sudah meng-sms saya.

Teman, begitu banyak khilaf, gangguan yang saya berikan kepadamu, beban curhat saya, sok tahunya diri saya, menyebalkannya saya, tolong maafkan saya.

Teman……..maafkan saya, ya

Kini saya tawarkan sebuah pertemanan tanpa syarat kepadamu…

dan masihkah kamu mau jadi teman saya?

Nekrofili, Kepribadian Mayat

Seperti mayat, seorang penderita nekrofili sudah kehilangan perasaan. Mereka bisa merusak dan merampas hak orang tanpa merasa risih. Mereka menyiksa dan membunuh orang tanpa rasa iba. Mereka bisa menonton dan menikmati tindakan kekerasan tanpa rasa simpati. Hidup mereka, hidup yang kosong, tanpa rasa, dan karena itu, tanpa makna. Untuk mengatasi kehampaan hidup akibat mati rasa, manusia modern mencari hiburan. Akan tetapi, hiburan itu hanya membuat mereka menjadi “mayat-mayat hidup” yang centil.
Muhammad Iqbal, cendekiawan Muslim dari Pakistan, menyatakan, “… karena sepenuhnya diliputi oleh hasil-hasil aktivitas intelektualnya, manusia modern telah berhenti hidup dengan jiwa, yakni hidup dari dalam. Dalam ranah pemikiran, dia hidup dalam konflik terbuka dengan dirinya sendiri; dan dalam ranah kehidupan politik dan ekonomi, dia hidup dalam konflik terbuka dengan orang lain. Dia menemukan dirinya tidak mampu mengontrol egoisme kejamnya dan kehausannya pada kekayaan yang tak terbatas, yang lambat lain membunuh semua kehendak yang lebih tinggi dan membawanya pada hidup yang melelahkan. Terserap dalam “fakta” sebutlah begitu, sumber sensasi yang hadir secara optis, dia terputus sama sekali dari wujud dirinya sendiri yang terdalam.”
Kenapa bisa begitu? Salah satu penyebabnya itu karena cara berpikir yang salah.
1. menganggap bahwa kebahagiaan itu berasal dari luar diri. Semakin banyak benda yang ditambahkan dari luar, atau semakin banyak pujian dari luar, semakin besar kebahagiaan.
2. mereka ingin abadi di tengah segala perubahan. Karena mereka ingin semua orang tetap memujinya, kapan pun dan di mana pun, mereka jadi terus-menerus menempelkan apa pun (juga melakukan apa pun) asalkan tetap menjadi sumber pujaan.
Al-Qur’an memiliki penilaian lain. … mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. (QS Al-An’am [6]:91) hanya Allah yang seharusnya menjadi penilai dari tindakan kita, bukan orang lain. Hanya Allah mestinya yang dianggap abadi, sedang diri sendiri seperti tubuh dan usia pastilah tidak abadi. Tidakkah kamu perhatikan orang yang mengambil hawa nafsu sebagai tuhan dan Allah menyesatkannya dengan pengetahuan dan penutup pendengarannya dan menutup hatinya, serta menjadikan penutup pada pandangannya. Siapa lagi yang memberikan petunjuk setelah Allah? Tidakkah kamu mengambil peringatan? (QS Al-Jatsiyah [45]:23) Hawa nafsu membuat manusia merasa harus segera mendapatkan apa yang mereka iginkan. Akhirnya, seluruh waktu digunakan hanya untuk satu kata: prestasi segera, ketenaran segera, dan uang yang segera.
Situasi inilah yang membuat kita jadi gampang terbawa arus kesedihan. Dalam persaingan dan keinginan ntuk lebih cepat dari yang lain inilah kita tertulari kepribadian mayat. Berhentilah sejenak, dengarkan azan, dengarkan seruan ajaibnya Hayya’alal falah (Mari meraih kebahgiaan) melalui shalat. Di tengah kesibukan yang membuat kita seperti kelinci yang sedang mengejar-ngejar wortel yang digantung di depan mata kita, berhenti sejenak sangatlah penting. Shalat adalah menciptakan waktu luang di antara deru kesibukan yang membuat kita lupa diri.
Dengarkanlah dengan khidmat, “Mari menuju kebahagiaan!” Lalu bisikanlah, “Aku mau ya Allah, aku datang kepada-Mu.”