Mana lebih mudah, buat kerja Akhirat atau kerja dunia

Tidak ada manusia yang dapat menolak bahwa hidup di dunia ini adalah sementara waktu. Di akhir zaman ini paling lama manusia boleh hidup, menurut waktu dunia, 150 tahun. Setelah itu semua orang dipercaya akan mati, setelah mati pergi ke Akhirat. Ramai orang yang percaya, sangat sedikit yang tidak percaya.

Di dalam tulisan saya ini, fokus saya adalah untuk umat Islam, bahwa umat Islam memang percaya Akhirat itu wujud, tempat tinggal manusia yang kekal abadi. Di sana ada kesenangan/kemudahan dan ada kesusahan seperti di dunia juga ada kesenangan, ada kesusahan, hanya saja kesenangan dan kesusahan di antara dunia dengan Akhirat tidak sama. Kalau kita hendak membuat perbandingannya, walaupun tidak tepat, agar mudah faham, kalau kesenangan, seperti kita hidup berumah di atas pohon dibandingkan dengan hidup di dalam istana, kalau azabnya, seperti digigit semut dibandingkan dengan dimakan oleh singa yang garang.

Pembatas antara dunia dengan Akhirat adalah alam kubur atau alam barzakh. Di sana kita di tahan sementara waktu. Di sana juga ada kesusahan dan ada kesenangan seperti di dunia juga. Perbandingannya seperti perbatasan di antara dua negara. Di perbatasan antara dua negara ada waktunya mendapat kesenangan dan ada waktunya mendapat kesusahan. Begitulah keadaannya di perbatasan antara dunia dengan Akhirat, yaitu alam kubur atau alam barzakh.

Walaupun umat Islam percaya negara Akhirat serta percaya alam barzakh, perbatasan di antara dunia dan Akhirat dan juga percaya bahwa nikmat dan azab di sana sangat jauh berbeda dengan nikmat dan azab di dunia. Seandainya saat ini Allah Taala beri kesempatan pada manusia untuk merasakan perbandingan itu nescaya manusia akan menolak dunia ini secara total dan akan bertumpu seratus persen untuk tujuan Akhirat.

Namun karena manusia itu hidup di dunia lebih dulu, yaitu hidup di negara yang dekat dan murah ini, mereka berhadapan dan merasakan nikmat dan azabnya lebih dahulu sebelum nikmat dan azab Akhirat, manusia terpesona hidup di sini. Mereka menjadi lalai, mereka teralit, terlupa kehidupan di sana yaitu negara Akhirat. Karena itu mereka bersungguh-sungguhlah mengejar nikmat dunia dan mengelakkan azab di dunia ini. Diperas otaknya, tenaganya pagi dan petang, siang dan malam, dengan tidak jemu-jemu walaupun susah tapi dapat dihadapinya kesusahan itu.

Walau menghadapi berbagai macam tantangan, manusia sanggup menanggungnya. Adakalanya ingin mengejar keuntungan, yang didapat rugi, inginkan kemudahan, susah yang didapat. Kebahagiaan yang dikejar, penderitaan yang datang. Kebaikan yang diburu, kemalangan yang dijumpai. Namun manusia tidak jemu-jemu, tidak rasa kecewa dan tidak putus asa, menggunakan tenaga yang ada, buru lagi dunia. Hingga ruangan untuk Akhirat tidak ada sama sekali atau tenaga yang tinggal sedikit, baru untuk Akhirat, itu pun mudah jemu, terasa susah, terasa membebani, terasa terhina, terasa malu dalam melakukannya.

Padahal di dalam pengalaman kita, mengejar Akhirat yang lebih penting dengan dunia yang tidak penting, Akhirat yang istimewa dengan dunia yang murah ini, sangat jauh perbedaan amalan Akhirat. Walau penting, Allah Taala mudahkan, itulah di antara rahmat-Nya agar manusia cenderung ke sana, tapi dunia yang murah, amalannya lebih susah supaya manusia mengambil enteng dan kecil saja dunia ini. Seharusnya seperti itu.

Tapi pada manusia rupanya tidak begitu, manusia lebih merasa susah membuat kerja-kerja Akhirat walaupun sebetulnya mudah dibandingkan dengan kerja-kerja dunia yang susah itu. Tapi pada manusia dirasakan ringan saja dan mudah. Itulah bukti tarikan dunia lebih mempengaruhi umat Islam walaupun kerja-kerjanya susah dan berat dibandingkan dengan tarikan Akhirat yang istimewa dan agungwalaupun kerja-kerjanya mudah dan ringan.

Mari kita lihat beberapa contoh-contoh yang menunjukkan kerja-kerja dunia itu susah dan berat, tapi ringan pada manusia karena tarikannya kuat dan kerja-kerja Akhirat itu mudah dan ringan tapi umat Islam merasakan susah dan berat karena tarikannya dingin. Saya sebutkan beberapa hal sebagai perbandingan seperti di bawah ini.

1. Mana yang lebih berat, sembahyang Subuh dua rakaat selama 20 menit -30 minit, dengan kerja 8 jam satu hari? Karena mencari duit, adakalanya kerja buruh, sangat berat, namun ada umat Islam tidak sanggup sembahyang Subuh sekadar 20-30 minit tapi tidak jemu-jemu bekerja satu hari 8 jam karena mencari duit.
2. Mana yang lebih berat menolong kawan karena Allah Taala mungkin sekadar satu dua jam dibandingkan walkathon(hiking) berjam-jam, kadang-kadang terpaksa naik bukit, menyeberang sungai, menurun lurah karena nama dan ketenaran. Lebih susah walkathon tapi mudah sahaja manusia boleh buat. Menolong kawan amat terasa berat.
3. Mana yang lebih berat antara memberi maaf kepada orang yang disuruh oleh Allah Taala dengan naik gunung Kinabalu karena nama dan glamour. Padahal tidak panjat gunung Kinabalu bukan satu kesalahan tapi orang lebih mampu memanjat gunung daripada memberi maaf yang merupakan perintah Allah.
4. Pergi sholat berjemaah tidak makan waktu yang panjang pun. Tidak juga terlalu jauh karena perintah Allah Taala dan juga tidak meletihkan. Dibandingkan hendak berekreasi dan membuang-buang masa bergaul bebas di tempat yang jauh mungkin di hutan, di tepi laut, disungai, yang banyak membuang uang, waktu dan akan berhadapan dengan keletihan. Namun orang tidak sanggup pergi sembahyang jemaah tapi sanggup pergi berekreasi. Adakalanya sampai di rumah cekcok pula dengan isteri karena sakit hati dengan suami.
5. Pergi belajar ke Amerika bertahun-tahun lamanya karena menginginkan ijazah agar dapat gaji yang tinggi, meninggalkan orangtua, tanah air, mengeluarkan uang, terkadanga ada yang mati di sana. Mana yang lebih susah dengan belajar agama di masjid sekadar satu jam untuk membaiki diri, tidak terkorban waktu dan uang, tidak tinggal keluarga dan tanah air.
Tentulah lebih susah kesusahan belajar di Amerika dibandingkan belajar di masjid sekadar satu jam. Namun ke Amerika sanggup, pergi ke masjid tidak mampu pergi.
6. Mana lebih berat hendak melayan dengan ibu ayah sekadar mungkin satu dua jam kemudian ibu bapa bagi makan, pakaian dan lain-lain, dibandingkan hendak melayan dan berkhidmat dengan kekasih/pacar berjam-jam lamanya, berhari-hari, menghabiskan uang, kalau terlihat orang dapat malu juga. Terkadang dia tidak jujur, di belakang kita ada ‘pacar’ yang lain. Tentu lebih susah berkhidmat dan melayan pacar daripada ibu dan ayah. Namun orang tidak sanggup berkhidmat dengan ibu ayah tapi lebih sanggup berkhidmat dengan pacar walaupun susah dan melelahkan.
7. Mana lebih berat, hendak menderma kepada kelab-kelab hiburan dan mengarut, setidaknya seribu ringgit, kalau tidak jatuh status, dengan hendak menderma dengan fakir miskin hanya sepuluh dua puluh ringgit. Tentulah lebih berat menderma ke kelab-kelab hiburan dan mengarut itu daripada hendak bersedekah dengan fakir miskin sekadar sepuluh dua puluh ringgit. Namun rasanya berat untuk bersedekah, tapi menderma seribu karena nama, sanggup. Adakalanya isteri tahu, kena maki juga akhirnya dengan isteri, tapi sanggup berhadapan dengan resikonya.
8. Yang mana yang lebih menghabiskan waktu atau menyusahkan, menonton film yang merosakkan akhlak atau membaca buku novel yang mengarut boleh sampai berjam-jam, kadang-kadang bergaduh dengan ibu bapa atau suami dan isteri, atau berzikir atau membaca Al Quran selama 30 menit. Tentu menonton film mengarut atau membaca novel mengarut hingga boleh bergaduh daripada berzikir atau membaca Al Quran sekadar 30 menit. Namun orang sanggup menonton filem atau membaca novel daripada berzikir atau membaca Al Quran.
9. Mana lebih susah, pergi berjudi atau pergi disko sambil minum minuman keras, terkorban waktu, uang, bergaduh selepas itu dengan isteri hingga kocar-kacir rumahtangga, atau menolong jiran yang susah hanya sekali-sekali yang boleh menimbulkan kasih sayang. Tentu menolong jiran lebih mudah tapi orang tidak sanggup berbuat, orang lebih sanggup berjudi, dan pergi disko dan minum minuman haram hingga berantakan rumahtangga, hingga bergaduh dan berhutang.
10. Orang-orang yang ramai masuk penjara, kena bunuh, kena fitnah, kena tangkap, diberi malu, dihina dan dicaci-maki oleh orang, mana lebih banyak disebabkan mencuri, menipu, membunuh, memperkosa, berzina, merampok, suap-menyuap, memperjuangkan ideologi, daripada orang-orang yang disebabkan mencari rezeki yang halal dan memperjuangkan Islam. Sudah tentu yang mencari rezeki yang halal dan karena memperjuangkan Islam terlalu sedikit dibandingkan disebabkan melakukan kejahatan tapi karena kejahatan atau dunia, sanggup menerima resiko yang berat. Tapi kalau kebaikan dan kebenaran tidak sanggup melakukannya.

Setelah kita menjabarkan dan membuat perbandingan di antara kerja-kerja Akhirat dengan kerja-kerja dunia, kerja-kerja dunia yang bersifat mungkar dan bermaksiat lebih susah dan lebih berat resiko yang diterima apabila dilakukan darpada kerja-kerja halal dan kerja-kerja Akhirat. Namun demikian orang tidak sanggup membuat kerja-kerja Akhirat walaupun mudah dibandingkan membuat kerja-kerja dunia walaupun susah dan memberatkan.

Di sini dapat dilihat bahwa umat Islam hatinya lebih cenderung dengan dunia daripada Akhirat walaupun dunia itu murah dan sementara waktu dibandingkan dengan Akhirat yang istimewa dan kekal abadi. Tepat sekali kata pepatah Melayu, cinta itu buta. Cinta kepada apa pun jadi buta, yang lain tidak kelihatan lagi, yang lain walaupun cantik dan istimewa tidak akan diperhatikan lagi. Seperti orang sudah jatuh cinta pada seorang perempuan atau seorang laki-laki, lupa yang lain, lupa ibu bapa, lupa adik beradik, lupa makan minum, tak serius bekerja dan lain-lain lagi. Dan karena cintanya itu sanggup bersusah payah dan sanggup menerima resiko yang berat.

Begitulah orang yang sudah cinta dan jatuh hati dengan dunia, lupa Akhirat, sanggup bersusah payah dengan dunia, sanggup menerima resiko yang berat walaupun harus mati karenanya. Untuk Akhirat walaupun istimewa, mudah pula, senang membuatnya, namun berat rasanya untuk dilakukan karena tidak cinta.

Setelah kita mengkaji bahwa kerja-kerja dunia lebih susah dan berbahaya, lebih berat dan resikonya lebih tinggi daripada kerja Akhirat, apakah hujah dan alasan kita nanti di hadapan Tuhan di Akhirat kelak. Tidak ada hujah dan alasan yang sebenarnya. Maka banyaklah manusia yang masuk Neraka daripada yang masuk ke Syurga.

5 Bola Kehidupan

Bayangkan hidup sebagai suatu permainan ketangkasan dimana kita harus memainkan keseimbangan 5 buah bola yang dilempar ke udara.

Bola-bola tersebut bernama : Pekerjaan, Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit dan kita harus menjaga agar ke-5 bola ini seimbang di udara.

Kita akan segera mengerti bahwa ternyata “Pekerjaan” hanyalah sebuah bola karet. Jika kita menjatuhkannya maka ia akan dapat memantul kembali.

Tetapi empat bola lainnya yaitu Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit terbuat dari gelas. Dan jika kita menjatuhkan salah satunya maka ia akan dapat terluka, tertandai, tergores, rusak atau bahkan hancur berkeping-keping.

Dan ingatlah mereka tidak akan pernah kembali seperti aslinya. Kita harus memahaminya benar dan berusaha keras untuk menyeimbangkannya

Bagaimana caranya?

1. Jangan rusak nilai kita dengan membandingkannya dengan nilai orang lain. Perbedaan yang ada diciptakan untuk membuat masing-masing diri kita special.
2. Jangan menganggap remeh sesuatu yang dekat di hati kita, melekatlah padanya seakan-akan ia adalah bagian yang membuat kita hidup, dimana tanpanya, hidup menjadi kurang berarti
3. Jangan biarkan hidup kita terpuruk di ‘masa lampau’ atau dalam mimpi masa depan. Satu hari hidup pada suatu waktu berarti hidup untuk seluruh waktu hidupmu.
4. Jangan menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan. Tidak ada yang benar-benar kalah sampai kita berhenti berusaha.
5. Janganlah takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ketidaksempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain.
6. Jangan takut menghadapi resiko. Anggaplah resiko sebagai kesempatan kita untuk belajar bagaimana menjadi berani.
7. Jangan berusaha untuk mengunci cinta dalam hidupmu dengan berkata “tidak mungkin saya temukan”. Cara tercepat untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberinya, cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah dengan menggenggamnya sekencang mungkin, dan cara terbaik untuk menjaga agar cinta tetap tumbuh adalah dengan memberinya ’sayap’.
8. Jangan lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalah kebutuhan untuk merasa dihargai.
9. Jangan takut untuk belajar sesuatu. Ilmu pengetahuan adalah harta karun yang selalu dapat kita bawa kemanapun tanpa membebani.

Dan akhirnya :

MASA LALU adalah SEJARAH , MASA DEPAN merupakan MISTERI dan SAAT INI adalah KARUNIA. Itulah kenapa dalam bahasa Inggris SAAT INI disebut “The Present”.

Menghargai Perbedaan

Pada suatu waktu, ada seorang mahaguru yang ingin mengambil break dari kehidupannya sehari-hari sebagai akademisi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai dan meminta seorang nelayan untuk membawanya pergi melaut sampai ke horizon.

Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut bertanya, “Wahai nelayan, apakah Anda mengenal ilmu geografi?” Sang nelayan menjawab, “ilmu geografi yang saya ketahui adalah kalau di laut sudah mulai sering ombak pasang, maka musim hujan segera akan tiba.” “Nelayan bodoh!” kata mahaguru tersebut. “Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai ilmu geografi kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu.”

Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru tersebut bertanya pada nelayan apakah dia mempelajari ilmu biologi dan sains? Sang nelayan menjawab bahwa ilmu biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja yang dapat dimakan. “Nelayan bodoh, dengan tidak menguasai sains kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu.” Kemudian mahaguru tersebut bercerita tentang Tuhan yang menciptakan umat manusia dengan struktur tubuh, kapasitas otak yang sama, dan lain-lain.

Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah nelayan tersebut mempelajari matematika? Sang nelayan menjawab bahwa matematika yang dia ketahui hanyalah bagaimana cara menimbang hasil tangkapannya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkannya, dan menjual hasil tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya. Lagi-lagi mahaguru tersebut mengatakan betapa bodohnya sang nelayan dan dia sudah kehilangan lagi seperempat kehidupannya.

Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari pantai dan mendekati horizon, mahaguru tersebut bertanya, “apa artinya awan hitam yang menggantung di langit?” “Topan badai akan segera datang, dan akan membuat lautan menjadi sangat berbahaya.” Jawab sang nelayan. “Apakah bapak bisa berenang?” Tanya sang nelayan.

Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa berenang. Sang nelayan kemudian berkata, “Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga subyek yang tadi diutarakan oleh mahaguru, tetapi mahaguru akan kehilangan seluruh kehidupan yang dimiliki.”

Kemudian nelayan tersebut meloncat dari perahu dan berenang ke pantai sedangkan mahaguru tersebut tenggelam.

Demikian juga dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan ataupun pergaulan sehari-hari. Kadang-kadang kita meremehkan teman, anak buah ataupun sesama rekan kerja. Kalimat “tahu apa kamu” atau “si anu tidak tahu apa-apa” mungkin secara tidak sadar sering kita ungkapkan ketika sedang membahas sebuah permasalahan. Padahal, ada kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan spesifik yang dapat mengatasi masalah yang timbul.

Seorang operator color mixing di pabrik tekstil atau cat mungkin lebih mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya. Intinya, orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami secara detail apa yang dia kerjakan dibandingkan orang ‘luar’ yang hanya tahu ‘kulitnya’ saja.

Mengenai kondisi dan kompetisi yang terjadi di pasar, pengetahuan seorang marketing manager mungkin akan kalah dibandingkan dengan seorang salesperson atau orang yang bergerak langsung di lapangan.

Atau sebaliknya, kita sering menganggap remeh orang baru. Kita menganggap orang baru tersebut tidak mengetahui secara mendalam mengenai bisnis yang kita geluti. Padahal, orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat memberikan terobosan untuk kemajuan perusahaan.

Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat dan jabatan kita sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman, posisi atau pendidikannya di bawah kita. Kita jarang bertanya pada bawahan kita. Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar basa-basi, pendapat dan masukannya sering dianggap sebagai angin lalu.

Padahal, kita tidak bisa bergantung pada kemampuan diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain. Keberhasilan kita tergantung pada keberhasilan orang lain. Begitu sebuah masalah muncul ke permukaan, kita tidak bisa mengatasinya dengan hanya mengandalkan kemampuan yang kita miliki. Kita harus menggabungkan kemampuan kita dengan orang lain.

Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih akan ditolong oleh orang lain yang kita hargai kemampuannya. Tidak seperti mahaguru yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang sedang dilanda topan badai dan dibiarkan mati tenggelam karena tidak menghargai kemampuan nelayan yang membawanya.

Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka bertingkah laku seperti sang mahaguru? Bila ya, seberapa sering?

« Entri lama