Kesetiaan

Dalam satu riwayat disebutkan satu percakapan yang menarik antara Abu Bakar r.a dan anaknya. Sebagaimana difahami, salah seorang anaknya Abu Bakar yang laki-laki masuk Islamnya belakangan setelah perang Badar. Sehingga di saat perang Badar si anak berperang di pihak musyrikin, melawan bapaknya yang berperang bersama kaum mukminin. Berkatalah si anak:

“Wahai bapak, dulu di saat perang badar, aku memiliki kesempatan untuk membunuhmu, dan aku yakin jika aku lakukan maka engkau pasti sudah terbunuh.”

“Lantas apakah yang menghalangi dirimu untuk melakukannya wahai anakku?” tanya Abu Bakar.

“Aku masih memiliki rasa sayang kepadamu. Itulah yang membuat diriku ragu.”

“Itulah sifat kemusyrikan wahai anakku. Loyalitas dan kesetiaan kepada tuhan kalian bisa kalah dengan kecintaan kalian pada yang lain. Sungguh jika aku berada di posisimu saat itu, sudah aku tebas lehermu.”

Salah seorang sahabat Nabi saw yang digelari “Orang Kepercayaan Umat ini” yang gigi seri depannya rontok karena mencabut besi yang menancap di pipi Nabi saw, dan merupakan Panglima Besar Islam, adalah seorang yang tadinya senantiasa menghindari bapaknya di medan perang, karena bapaknya berperang dipihak musyrikin. Dengan kemantapan hati dan kecintaan kepada tauhid, akhirnya dibunuh jugalah bapaknya di medan peperangan. Beliau adalah Abu Ubaidah ibnul Jarrah.

Dalam satu riwayat disebutkan juga, bahwa Umar bin Khathab menyatakan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya melebihi apapun yang ada di dunia ini kecuali dirinya. Jadi kecintaan pada dirinya masih nomor satu, barulah diikuti kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Halini dijawab oleh Nabi saw, bahwa tidak sempurna iman seseorang sebelum dia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun di dunia ini, bahkan terhadap dirinya sendiri.

Jika sampeyan perhatikan, ada yang hilang dari kehidupan beragama dari umat Islam,yakni kesetiaan atau loyalitas. Beragamanya orang-orang yang telah diridhoi Allah, yakni para shahabat Nabi, adalah beragama yang disertai loyalitas pada apa yang diyakini. Beragamanya orang saat ini, apapun agamanya, selalu diikuti loyalitas pada kebesaran nafsunya. Mengaku menyembah Allah tapi loyalitas hidupnya diserahkan pada keluarga, pangkat, jabatan, partai, bendera golongan, demokrasi, selangkangan wanita, perut, pluralisme, dan segala tetek bengek yang diringkes oleh Al Qur’an dengan nama Thaghut.

Dahulu kala, di saat Nabi mengajarkan ajaran wahyu, ada juga si bangsat Musailamah yang mengaku menerima wahyu. Di saat Nabi menerima surat Al Ashr, Musailamah mengaku menerima surat Al Wabr. Di masa kekalifahan Abu Bakar dibentuklah laskar khusus yang dikirim untuk membasmi para bangsatwan. Sang Nabi palsu bangsat Musailamah laknat dipenggal oleh salah seorang saudara Umar bin Khathab. Inilah loyalitas. Kesetiaan pada keyakinan.

Sesungguhnya semua orang memiliki loyalitas. Semua orang mempunyai kesetiaan pada sesuatu. Sabda Nabi mengatakan, “Ad Diinu Nasihah”. Agama itu Nasihah. Nasihah di sini seringkali diartikan nasehat atau wejangan atau petuah. Jika melihat isi keseluruhan haditsnya, makna itu kurang tepat. Nasihah lebih pas jika dimaknai “kesetiaan.”

Agama itu kesetiaan. Kepada siapa? Kepada Allah, Rasul, Kitab, Imam kaum mukminin dan pada umat keseluruhan.

Sudahkah kesetiaan sampeyan diletakkan pada ad diin (agama)? Atau sampeyan letakkan pada karir, jabatan, pangkat, keluarga, golongan, suku, blog, traffic, adsense, rating, rokok, tuak, sosialisme, humanisme, demokrasi, kesetaraan gender …. Atau thaghut??

Berapa kali sampeyan telat masuk kantor dan bandingkan dengan berapa kali sampeyan telat sholat jamaah lima waktu?? Lebih loyal pada apa sampeyan?

Sumber

Mana lebih mudah, buat kerja Akhirat atau kerja dunia

Tidak ada manusia yang dapat menolak bahwa hidup di dunia ini adalah sementara waktu. Di akhir zaman ini paling lama manusia boleh hidup, menurut waktu dunia, 150 tahun. Setelah itu semua orang dipercaya akan mati, setelah mati pergi ke Akhirat. Ramai orang yang percaya, sangat sedikit yang tidak percaya.

Di dalam tulisan saya ini, fokus saya adalah untuk umat Islam, bahwa umat Islam memang percaya Akhirat itu wujud, tempat tinggal manusia yang kekal abadi. Di sana ada kesenangan/kemudahan dan ada kesusahan seperti di dunia juga ada kesenangan, ada kesusahan, hanya saja kesenangan dan kesusahan di antara dunia dengan Akhirat tidak sama. Kalau kita hendak membuat perbandingannya, walaupun tidak tepat, agar mudah faham, kalau kesenangan, seperti kita hidup berumah di atas pohon dibandingkan dengan hidup di dalam istana, kalau azabnya, seperti digigit semut dibandingkan dengan dimakan oleh singa yang garang.

Pembatas antara dunia dengan Akhirat adalah alam kubur atau alam barzakh. Di sana kita di tahan sementara waktu. Di sana juga ada kesusahan dan ada kesenangan seperti di dunia juga. Perbandingannya seperti perbatasan di antara dua negara. Di perbatasan antara dua negara ada waktunya mendapat kesenangan dan ada waktunya mendapat kesusahan. Begitulah keadaannya di perbatasan antara dunia dengan Akhirat, yaitu alam kubur atau alam barzakh.

Walaupun umat Islam percaya negara Akhirat serta percaya alam barzakh, perbatasan di antara dunia dan Akhirat dan juga percaya bahwa nikmat dan azab di sana sangat jauh berbeda dengan nikmat dan azab di dunia. Seandainya saat ini Allah Taala beri kesempatan pada manusia untuk merasakan perbandingan itu nescaya manusia akan menolak dunia ini secara total dan akan bertumpu seratus persen untuk tujuan Akhirat.

Namun karena manusia itu hidup di dunia lebih dulu, yaitu hidup di negara yang dekat dan murah ini, mereka berhadapan dan merasakan nikmat dan azabnya lebih dahulu sebelum nikmat dan azab Akhirat, manusia terpesona hidup di sini. Mereka menjadi lalai, mereka teralit, terlupa kehidupan di sana yaitu negara Akhirat. Karena itu mereka bersungguh-sungguhlah mengejar nikmat dunia dan mengelakkan azab di dunia ini. Diperas otaknya, tenaganya pagi dan petang, siang dan malam, dengan tidak jemu-jemu walaupun susah tapi dapat dihadapinya kesusahan itu.

Walau menghadapi berbagai macam tantangan, manusia sanggup menanggungnya. Adakalanya ingin mengejar keuntungan, yang didapat rugi, inginkan kemudahan, susah yang didapat. Kebahagiaan yang dikejar, penderitaan yang datang. Kebaikan yang diburu, kemalangan yang dijumpai. Namun manusia tidak jemu-jemu, tidak rasa kecewa dan tidak putus asa, menggunakan tenaga yang ada, buru lagi dunia. Hingga ruangan untuk Akhirat tidak ada sama sekali atau tenaga yang tinggal sedikit, baru untuk Akhirat, itu pun mudah jemu, terasa susah, terasa membebani, terasa terhina, terasa malu dalam melakukannya.

Padahal di dalam pengalaman kita, mengejar Akhirat yang lebih penting dengan dunia yang tidak penting, Akhirat yang istimewa dengan dunia yang murah ini, sangat jauh perbedaan amalan Akhirat. Walau penting, Allah Taala mudahkan, itulah di antara rahmat-Nya agar manusia cenderung ke sana, tapi dunia yang murah, amalannya lebih susah supaya manusia mengambil enteng dan kecil saja dunia ini. Seharusnya seperti itu.

Tapi pada manusia rupanya tidak begitu, manusia lebih merasa susah membuat kerja-kerja Akhirat walaupun sebetulnya mudah dibandingkan dengan kerja-kerja dunia yang susah itu. Tapi pada manusia dirasakan ringan saja dan mudah. Itulah bukti tarikan dunia lebih mempengaruhi umat Islam walaupun kerja-kerjanya susah dan berat dibandingkan dengan tarikan Akhirat yang istimewa dan agungwalaupun kerja-kerjanya mudah dan ringan.

Mari kita lihat beberapa contoh-contoh yang menunjukkan kerja-kerja dunia itu susah dan berat, tapi ringan pada manusia karena tarikannya kuat dan kerja-kerja Akhirat itu mudah dan ringan tapi umat Islam merasakan susah dan berat karena tarikannya dingin. Saya sebutkan beberapa hal sebagai perbandingan seperti di bawah ini.

1. Mana yang lebih berat, sembahyang Subuh dua rakaat selama 20 menit -30 minit, dengan kerja 8 jam satu hari? Karena mencari duit, adakalanya kerja buruh, sangat berat, namun ada umat Islam tidak sanggup sembahyang Subuh sekadar 20-30 minit tapi tidak jemu-jemu bekerja satu hari 8 jam karena mencari duit.
2. Mana yang lebih berat menolong kawan karena Allah Taala mungkin sekadar satu dua jam dibandingkan walkathon(hiking) berjam-jam, kadang-kadang terpaksa naik bukit, menyeberang sungai, menurun lurah karena nama dan ketenaran. Lebih susah walkathon tapi mudah sahaja manusia boleh buat. Menolong kawan amat terasa berat.
3. Mana yang lebih berat antara memberi maaf kepada orang yang disuruh oleh Allah Taala dengan naik gunung Kinabalu karena nama dan glamour. Padahal tidak panjat gunung Kinabalu bukan satu kesalahan tapi orang lebih mampu memanjat gunung daripada memberi maaf yang merupakan perintah Allah.
4. Pergi sholat berjemaah tidak makan waktu yang panjang pun. Tidak juga terlalu jauh karena perintah Allah Taala dan juga tidak meletihkan. Dibandingkan hendak berekreasi dan membuang-buang masa bergaul bebas di tempat yang jauh mungkin di hutan, di tepi laut, disungai, yang banyak membuang uang, waktu dan akan berhadapan dengan keletihan. Namun orang tidak sanggup pergi sembahyang jemaah tapi sanggup pergi berekreasi. Adakalanya sampai di rumah cekcok pula dengan isteri karena sakit hati dengan suami.
5. Pergi belajar ke Amerika bertahun-tahun lamanya karena menginginkan ijazah agar dapat gaji yang tinggi, meninggalkan orangtua, tanah air, mengeluarkan uang, terkadanga ada yang mati di sana. Mana yang lebih susah dengan belajar agama di masjid sekadar satu jam untuk membaiki diri, tidak terkorban waktu dan uang, tidak tinggal keluarga dan tanah air.
Tentulah lebih susah kesusahan belajar di Amerika dibandingkan belajar di masjid sekadar satu jam. Namun ke Amerika sanggup, pergi ke masjid tidak mampu pergi.
6. Mana lebih berat hendak melayan dengan ibu ayah sekadar mungkin satu dua jam kemudian ibu bapa bagi makan, pakaian dan lain-lain, dibandingkan hendak melayan dan berkhidmat dengan kekasih/pacar berjam-jam lamanya, berhari-hari, menghabiskan uang, kalau terlihat orang dapat malu juga. Terkadang dia tidak jujur, di belakang kita ada ‘pacar’ yang lain. Tentu lebih susah berkhidmat dan melayan pacar daripada ibu dan ayah. Namun orang tidak sanggup berkhidmat dengan ibu ayah tapi lebih sanggup berkhidmat dengan pacar walaupun susah dan melelahkan.
7. Mana lebih berat, hendak menderma kepada kelab-kelab hiburan dan mengarut, setidaknya seribu ringgit, kalau tidak jatuh status, dengan hendak menderma dengan fakir miskin hanya sepuluh dua puluh ringgit. Tentulah lebih berat menderma ke kelab-kelab hiburan dan mengarut itu daripada hendak bersedekah dengan fakir miskin sekadar sepuluh dua puluh ringgit. Namun rasanya berat untuk bersedekah, tapi menderma seribu karena nama, sanggup. Adakalanya isteri tahu, kena maki juga akhirnya dengan isteri, tapi sanggup berhadapan dengan resikonya.
8. Yang mana yang lebih menghabiskan waktu atau menyusahkan, menonton film yang merosakkan akhlak atau membaca buku novel yang mengarut boleh sampai berjam-jam, kadang-kadang bergaduh dengan ibu bapa atau suami dan isteri, atau berzikir atau membaca Al Quran selama 30 menit. Tentu menonton film mengarut atau membaca novel mengarut hingga boleh bergaduh daripada berzikir atau membaca Al Quran sekadar 30 menit. Namun orang sanggup menonton filem atau membaca novel daripada berzikir atau membaca Al Quran.
9. Mana lebih susah, pergi berjudi atau pergi disko sambil minum minuman keras, terkorban waktu, uang, bergaduh selepas itu dengan isteri hingga kocar-kacir rumahtangga, atau menolong jiran yang susah hanya sekali-sekali yang boleh menimbulkan kasih sayang. Tentu menolong jiran lebih mudah tapi orang tidak sanggup berbuat, orang lebih sanggup berjudi, dan pergi disko dan minum minuman haram hingga berantakan rumahtangga, hingga bergaduh dan berhutang.
10. Orang-orang yang ramai masuk penjara, kena bunuh, kena fitnah, kena tangkap, diberi malu, dihina dan dicaci-maki oleh orang, mana lebih banyak disebabkan mencuri, menipu, membunuh, memperkosa, berzina, merampok, suap-menyuap, memperjuangkan ideologi, daripada orang-orang yang disebabkan mencari rezeki yang halal dan memperjuangkan Islam. Sudah tentu yang mencari rezeki yang halal dan karena memperjuangkan Islam terlalu sedikit dibandingkan disebabkan melakukan kejahatan tapi karena kejahatan atau dunia, sanggup menerima resiko yang berat. Tapi kalau kebaikan dan kebenaran tidak sanggup melakukannya.

Setelah kita menjabarkan dan membuat perbandingan di antara kerja-kerja Akhirat dengan kerja-kerja dunia, kerja-kerja dunia yang bersifat mungkar dan bermaksiat lebih susah dan lebih berat resiko yang diterima apabila dilakukan darpada kerja-kerja halal dan kerja-kerja Akhirat. Namun demikian orang tidak sanggup membuat kerja-kerja Akhirat walaupun mudah dibandingkan membuat kerja-kerja dunia walaupun susah dan memberatkan.

Di sini dapat dilihat bahwa umat Islam hatinya lebih cenderung dengan dunia daripada Akhirat walaupun dunia itu murah dan sementara waktu dibandingkan dengan Akhirat yang istimewa dan kekal abadi. Tepat sekali kata pepatah Melayu, cinta itu buta. Cinta kepada apa pun jadi buta, yang lain tidak kelihatan lagi, yang lain walaupun cantik dan istimewa tidak akan diperhatikan lagi. Seperti orang sudah jatuh cinta pada seorang perempuan atau seorang laki-laki, lupa yang lain, lupa ibu bapa, lupa adik beradik, lupa makan minum, tak serius bekerja dan lain-lain lagi. Dan karena cintanya itu sanggup bersusah payah dan sanggup menerima resiko yang berat.

Begitulah orang yang sudah cinta dan jatuh hati dengan dunia, lupa Akhirat, sanggup bersusah payah dengan dunia, sanggup menerima resiko yang berat walaupun harus mati karenanya. Untuk Akhirat walaupun istimewa, mudah pula, senang membuatnya, namun berat rasanya untuk dilakukan karena tidak cinta.

Setelah kita mengkaji bahwa kerja-kerja dunia lebih susah dan berbahaya, lebih berat dan resikonya lebih tinggi daripada kerja Akhirat, apakah hujah dan alasan kita nanti di hadapan Tuhan di Akhirat kelak. Tidak ada hujah dan alasan yang sebenarnya. Maka banyaklah manusia yang masuk Neraka daripada yang masuk ke Syurga.

Manfaat Sedekah

Kematian Bisa Diundur
Penulis : Ust. Yusuf Mansur

Kematian memang di tangan Allah SWT. Tapi ada satu hal yang bisa membuat kematian menjadi sesuatu yang bisa ditunda, yaitu kemauan bersedekah, kemauan berbagi dan peduli.

Suatu hari, Malaikat Kematian mendatangi Nabi Ibrahim AS dan bertanya, “Siapa anak muda yang tadi mendatangimu, wahai Ibrahim?”

“Yang anak muda tadi maksudnya?” tanya Ibrahim. “Itu sahabat sekaligus muridku.”

“Ada apa dia datang menemuimu?”

“Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya besok pagi.”

“Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai besok pagi.” Habis berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi meninggalkan Nabi Ibrahim AS.

Hampir saja Nabi Ibrahim AS tergerak untuk memberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam ini, dan memberitahu tentang kematian anak muda itu besok. Tapi langkahnya terhenti. Nabi Ibrahim AS memilih kematian tetap menjadi rahasia Allah SWT.

Esok paginya, Nabi Ibrahim AS ternyata melihat dan menyaksikan bahwa anak muda tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahannya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabi Ibrahim AS malah melihat anak muda ini panjang umurnya.

Hingga usia anak tersebut 70 tahun, Nabi Ibrahim AS bertanya kepada Malaikat Kematian, apakah dia berbohong tempo hari sewaktu menyampaikan bahwa anak muda itu umurnya tidak akan sampai besok pagi? Malaikat Kematian menjawab bahwa dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda tersebut, tapi Allah SWT menahannya.

“Apa gerangan yang membuat Allah SWT menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda tersebut, dulu?”

“Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Allah SWT memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau masih melihatnya hidup.”

Kematian memang di tangan Allah SWT. Oleh karena itu, memajukan dan memundurkan kematian adalah hak Allah SWT. Dan Allah SWT memberitahu lewat kalam RasulNya, Muhammad SAW, bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur. Jadi, bila disebut bahwa ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu adalah sedekah.

Maka, tengoklah kanan-kiri Anda, lihat-lihatlah sekeliling Anda. Bila Anda menemukan ada satu-dua kesusahan tergelar, maka sesungguhnya Anda-lah yang butuh pertolongan, karena siapa tahu kesusahan itu digelar Allah SWT untuk memperpanjang umur Anda. Tinggal apakah Anda bersedia menolongnya atau tidak. Bila bersedia, maka kemungkinan besar memang Allah SWT akan memanjangkan umur Anda.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya akan sampai. Dan, tidak seorang pun yang mengetahui dalam kondisi apa ajalnya tiba. Maka mengeluarkan sedekah bukan saja akan memperpanjang umur, melainkan juga memungkinkan kita meninggal dalam keadaan baik. Bukankah sedekah akan mengundang cinta Allah SWT? Kalau seseorang sudah dicintai oleh Allah SWT, maka tidak ada masalahnya yang tidak diselesaikan, tidak ada keinginannya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampunkan, dan tidak ada nyawa yang dicabut kecuali dalam keadaan husnul khatimah.

Mudah-mudahan Allah berkenan memperpanjang umur, sehingga kita semua berkesempatan untuk mengejar ampunan Allah SWT dan mengubah segala kelakuan kita, sambil mempersiapkan kematian datang.

« Entri lama