Kartun Picu Kekerasan Anak

Anggapan bahwa film kartun merupakan tontonan anak-anak, tidak selamanya tepat. Karena tidak semua film kartun menjadi tontonan sehat.

Sebuah penelitian yang dimuat di majalah sains Pediatrics melaporkan, anak laki-laki berusia 2-5 tahun, yang sering menyaksikan film kartun atau olahraga yang menunjukkan kontak fisik, memiliki kecenderungan bersikap agresif dan tidak patuh di masa mendatang.

“Penelitian kami menunjukkan semakin sering anak usia sekolah menonton program televisi yang mempertontonkan kekerasan, semakin besar pula kecenderungan mereka untuk mempunyai tingkah laku anti-sosial. Misalnya, agrasif, tidak patuh, dan bermasalah di usia sekolah,” kata Dimitri Christakis, ketua tim peneliti dari Institut Penelitian Rumah Sakit Anak Seattle.
“Kartun adalah penyebab utamanya,” tegas Christakis.

Sebagian besar orangtua, imbuh Christakis, menganggap kartun tidak berbahaya karena film-film itu tidak menggambarkan manusia sebenarnya. Dan juga lucu. Namun anak-anak usia pra-sekolah tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan seperti anak-anak yang lebih besar atau kaum dewasa. Bagi mereka, semuanya nyata.

“Kekerasan dalam kartun dibuat sebagai hal lucu dan menunjukkan kekerasan tanpa konsekuensi nyata. Misalnya, saat orang diledakkan, mereka hanya tampak hangus sesaat, lalu kembali normal. Ini menimbulkan pesan yang salah pada efek kekerasan dalam dunia nyata,” jelas Christakis.
Dalam penelitian itu, anak-anak perempuan pra-sekolah yang menyaksikan kekerasan pada acara televise maupun anak-anak yang tidak menontonnnya sama sekali tidak menunjukkan agresivitas di kemudian hari.

Para penelitian menggunakan data yang dikumpulkan dari studi selama 40 tahun dari 8.000 keluarga AS. Hal ini untuk mempelajari jenis program yang ditonton 184 anak laki-laki dan 146 anak perempuan usia 2 – 4 tahun. Kemudian tingkah laku yang ditunjukkan setelah mereka lebih besar.
Program-program yang tergolong keras menurut studi itu, antara lain Power Rangers, Star Wars, dan pertandingan sepakbola Amerika. Sementara program non-kekerasan termasuk Toy Story dan Flintstones, serta Sesame Street dan Magic School Bus tergolong program edukasi.

“Intinya bukan tentang nonton televise, tetapi soal yang ditonton anak-anak,” kata Christakis.
Pesan untuk orangtua adalah mereka harus memperhatikan tontonan anak-anak. “Tak ada salahnya dengan menyeleksi tontonan mereka. Jika tidak, risikonya terkait tingkah laku anak-anak,” pungkas Christakis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: