Puisi seorang isteri soal kekerasan suaminya


Aku mendapat bunga hari ini
meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku.
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar
dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya
karena hari ini ia mengirim aku bunga.

Aku mendapat bunga hari ini.
Ini bukan ulang tahun perkawinan kami atau hari istimewa kami.
Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku
Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya
karena ia mengirim bunga padaku hari ini.

Aku mendapat bunga hari ini,
padahal hari ini bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain.
Semalam ia memukuli aku lagi, lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu.
Aku takut padanya tetapi aku takut meningggalkannya.
Aku tidak punya uang.
Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam,
karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.

Ada bunga untukku hari ini.
Hari ini adalah hari istimewa: inilah hari pemakamanku.
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam.
Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya,
aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini….

PS: Tolong di-forward ke perempuan di belahan dunia manapun.
Kadang wanita terlalu lemah dan menerima saja untuk disakiti.

STOP KEKERASAN PADA WANITA!

Jeritan hati berbentuk “puisi” di atas diterima Blog Berita lewat kiriman email seorang pembaca di Jakarta, MW, yang mengutipnya dari blog Chiclicious, dan blog tersebut mengutipnya dari sumber lain. Setelah mencari di Google, aku menemukan bahwa kisah ini sudah dikutip banyak situs selama beberapa tahun terakhir. Penulisnya tidak memakai identitas alias anonim.

Untuk isteri-isteri yang mengalami kekerasan oleh suami, jangan takut mengadukannya. Datangi kantor polisi terdekat, atau LSM pembela perempuan di kotamu, atau Komnas Perempuan, atau setidaknya ceritakan pada keluarga dan sahabatmu.

Komnas Perempuan is an independent National Commission that promotes women’s human rights by working to create an environment conducive to the elimination of all forms of violence against women in Indonesia.

1 Komentar

  1. era said,

    Oktober 23, 2008 pada 10:10 am

    waah,puisi yg menyedihkan…..
    Jangan sampai deh terjadi pada kita semua……amiiiin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: