Nekrofili, Kepribadian Mayat

Seperti mayat, seorang penderita nekrofili sudah kehilangan perasaan. Mereka bisa merusak dan merampas hak orang tanpa merasa risih. Mereka menyiksa dan membunuh orang tanpa rasa iba. Mereka bisa menonton dan menikmati tindakan kekerasan tanpa rasa simpati. Hidup mereka, hidup yang kosong, tanpa rasa, dan karena itu, tanpa makna. Untuk mengatasi kehampaan hidup akibat mati rasa, manusia modern mencari hiburan. Akan tetapi, hiburan itu hanya membuat mereka menjadi “mayat-mayat hidup” yang centil.
Muhammad Iqbal, cendekiawan Muslim dari Pakistan, menyatakan, “… karena sepenuhnya diliputi oleh hasil-hasil aktivitas intelektualnya, manusia modern telah berhenti hidup dengan jiwa, yakni hidup dari dalam. Dalam ranah pemikiran, dia hidup dalam konflik terbuka dengan dirinya sendiri; dan dalam ranah kehidupan politik dan ekonomi, dia hidup dalam konflik terbuka dengan orang lain. Dia menemukan dirinya tidak mampu mengontrol egoisme kejamnya dan kehausannya pada kekayaan yang tak terbatas, yang lambat lain membunuh semua kehendak yang lebih tinggi dan membawanya pada hidup yang melelahkan. Terserap dalam “fakta” sebutlah begitu, sumber sensasi yang hadir secara optis, dia terputus sama sekali dari wujud dirinya sendiri yang terdalam.”
Kenapa bisa begitu? Salah satu penyebabnya itu karena cara berpikir yang salah.
1. menganggap bahwa kebahagiaan itu berasal dari luar diri. Semakin banyak benda yang ditambahkan dari luar, atau semakin banyak pujian dari luar, semakin besar kebahagiaan.
2. mereka ingin abadi di tengah segala perubahan. Karena mereka ingin semua orang tetap memujinya, kapan pun dan di mana pun, mereka jadi terus-menerus menempelkan apa pun (juga melakukan apa pun) asalkan tetap menjadi sumber pujaan.
Al-Qur’an memiliki penilaian lain. … mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. (QS Al-An’am [6]:91) hanya Allah yang seharusnya menjadi penilai dari tindakan kita, bukan orang lain. Hanya Allah mestinya yang dianggap abadi, sedang diri sendiri seperti tubuh dan usia pastilah tidak abadi. Tidakkah kamu perhatikan orang yang mengambil hawa nafsu sebagai tuhan dan Allah menyesatkannya dengan pengetahuan dan penutup pendengarannya dan menutup hatinya, serta menjadikan penutup pada pandangannya. Siapa lagi yang memberikan petunjuk setelah Allah? Tidakkah kamu mengambil peringatan? (QS Al-Jatsiyah [45]:23) Hawa nafsu membuat manusia merasa harus segera mendapatkan apa yang mereka iginkan. Akhirnya, seluruh waktu digunakan hanya untuk satu kata: prestasi segera, ketenaran segera, dan uang yang segera.
Situasi inilah yang membuat kita jadi gampang terbawa arus kesedihan. Dalam persaingan dan keinginan ntuk lebih cepat dari yang lain inilah kita tertulari kepribadian mayat. Berhentilah sejenak, dengarkan azan, dengarkan seruan ajaibnya Hayya’alal falah (Mari meraih kebahgiaan) melalui shalat. Di tengah kesibukan yang membuat kita seperti kelinci yang sedang mengejar-ngejar wortel yang digantung di depan mata kita, berhenti sejenak sangatlah penting. Shalat adalah menciptakan waktu luang di antara deru kesibukan yang membuat kita lupa diri.
Dengarkanlah dengan khidmat, “Mari menuju kebahagiaan!” Lalu bisikanlah, “Aku mau ya Allah, aku datang kepada-Mu.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: