Asal Muasal Dasi

Asal Muasal Dasi

Tampil modis bukan hanya milik kaum hawa, kaum adam pun juga bisa mengikuti trend. Meskipun tidak sebanyak kaum hawa, namun, pilihan aksesoris untuk pria tetap tersedia. Seperti jam tangan, ikat pinggang, dasi, parfum, slayer, topi, dll. Salah satu pelengkap aksesoris pria antara lain dasi. Dasi merupakan pilihan untuk tampil gaya dan menarik, serta terkesan maskulin. Padu padan busana dengan tambahaan aksesoris dasi yang menarik, dapat memancarkan kharismatik bagi pria.

Meskipun demikian, banyak juga pria yang merasa risih saat menggunakan dasi. “Terkesan terlalu formal,” demikian alasan mereka. Atau malahan, tidak jarang yang mengatakan seperti sales officer (bukannya merendahkan profesi ini lho ya..). Tipikal pria yang seperti ini biasanya cenderung percaya diri, dan suka tampil apa adanya.

Kembali ke topik, Dasi yang selama ini kita kenal, merupakan sepotong kain yang dibuat tipis memanjang, yang memiliki unjung lancip dan tidak sama besar. Aksesoris yang dipasang melilit di leher di depan dada ini, menurut Asosiasi Aksesori Leher Amerika (ada juga lembaga kayak gini) memiliki sejarah tersendiri dalam peradaban manusia (ya ileeh :)). Bahkan konon, wikipedia menyebut bahwa sejak zaman batu pun aksesori ini sudah ada, khususnya untuk memberi ciri pada kelompok pria dari strata tinggi (entah benar entah salah).

Malah, pada masa Romawi kuno sudah dipakai kain untuk melindungi leher dan tenggorokan, khususnya oleh para jurubicara. Pada perkembangannya prajurit militer Romawi pun memakainya. Bukti dipakainya aksesori kain leher tampak pada patung batu di makam kuno, Xian, Tiongkok.

Aksesori leher terkenal lainnya muncul di masa Shakespeare (1564 – 1616), yang disebut “ruff“. Kerah kaku dari kain putih itu bentuknya serupa piringan besar yang melingkari leher. Untuk mempertahankan bentuk, ruff sering dikanji. Lambat laun orang merasa ruff yang bertumpuk-tumpuk hingga mencapai ketebalan beberapa sentimeter mengakibatkan iritasi.

Kemudian lahirlah “cravat” pada masa pemerintahan Louis XIV tahun 1660-an. Namun, Kroasia lebih tepat disebut sebagai tanah asal dasi. Bahkan konon kata ini berasal dari nama negara Kroasia yang dalam bahasa setempat disebut Hrvatska.

Ini sesuai penuturan Francoise Chaile dalam buku La Grande Historie de la Cravate (Flamarion, Paris, 1994). “… Sekitar tahun 1635, sekitar enam ribu prajurit dan ksatria datang ke Paris, yang disewa oleh Louis XIII dan Richelieu. Pakaian tradisional mereka amat menarik. Sehelai sapu tangan diikatkan di leher dengan cara khusus. Sapu tangan itu terbuat dari berbagai kain, dari yang serupa seragam, katun halus, hingga sutera. Gaya unik ini segera ‘menaklukkan Perancis’. Apalagi cara ini lebih praktis ketimbang kerah kaku. Sapu tangan itu cuma diikat, dengan ujung-ujungnya dibiarkan lepas.“

Maka disebutlah sapu tangan itu cravat, yang artinya “penduduk dari Kroasia”.

Sebagaimana aksesori leher di zaman batu, keindahan cravat dan cara mengikatnya menunjukkan kelas dan strata si pemakai. Konon Beau Brummell (1778 – 1840), yang banyak mempengaruhi perkembangan mode, perlu waktu berjam-jam untuk mengikat cravat-nya.

Banyak buku teknik mengikat cravat diterbitkan. Salah satunya menampilkan 32 cara, meski kenyataannya ada lebih dari 100 cara yang resmi dikenal saat itu. Begitupun, ada saja orang yang ingin mengekspresikan kepribadian mereka dengan kreasi sendiri.

Selanjutnya muncul adab mengenakan cravat. Seseorang pantang menyentuh cravat orang lain. Kalau sampai terjadi, tindakan itu bisa berakibat fatal, yakni duel. Smack down! Hwaaaaa!

Bahkan tak hanya terbatas pada kemodisan dan penunjuk strata semata, ternyata hal-hal yang bersifat takhayul pun berkembang di seputaran cravat. Konon saat Napoleon Bonaparte mengenakan cravat hitam yang dililitkan dua kali memutari leher, ia selalu menang perang. Celakanya, saat terjun di Waterloo ia memakai cravat putih. Akibatnya bisa ditebak. Ia pun “jatuh”.

Tahun 1860-an cravat dengan ujung yang panjang mulai menyerupai aksesori leher modern alias dasi. Ketika muncul mode kemeja berkerah, dasi disimpulkan di bawah dagu, ujung panjangnya terjuntai di depan kemeja. Sementara dasi berbentuk kupu-kupu (a la Tuxedo bertopeng) baru populer tahun 1890-an.

Dengan kemajuan teknologi, kini dasi jadi makin beragam warna, desain, dan teksturnya. Alhasil, lebih dari 100 juta dasi menyerbu berbagai gerai dasi setiap tahun.

Dalam perkembangan berikutnya, keidentikan dasi sebagai sebuah asesoris pria didobrak pada tahun 2002 oleh penyanyi kenamaan asal Kanada, Avril Lavigne yang populer dengan “S-8-er Boys”-nya. Dia mempopulerkan pemakaian dasi secara casual bagi para remaja wanita. Anak Punk yang satu ini memang benar-benar little rebel.

TIPS MEMAKAI DASI

Memang dalam pemilihan dasi ini, sangat sulit. Selain harus jeli mencocokkan dasi dengan baju yang akan dipakai, juga harus jeli mencari motif dan warna dasi. Jika salah dalam pemilihan, maka penampilan bisa sedikit aneh, karena tidak matching.

Khusus untuk dasi yang memiliki motif bergaris miring, bisa digunakan untuk semua pria. Sebab, dasi ini khusus dirancang untuk pria yang memiliki tubuh besar, kurus, tinggi ataupun kecil.

Berbeda dengan dasi yang bermotif kotak-kotak. Bagi Anda yang memiliki tubuh besar, maka sebaiknya mengenakan dasi yang bermotif kotak kecil. “Manfaat dalam mengenakan dasi ini juga harus diperhatikan. Bagi mereka yang telah terbiasa mengenakan dasi, dapat memilih motif dan warna sesuai selera mereka. Karena dasi juga merupakan simbol dan ekspresi perwujudan diri, jadi sebaiknya diperhatikan juga,” katanya.

Begitu pula halnya dalam pemakaian dasi. Bagi mereka yang tidak mau repot dan susah-susah dalam hal pemakaiannya, tersedia pula dasi dengan model instan yang bisa langsung dikenakan, karena adanya perekat pada dasi yang telah disimpulkan. “Tersedia berbagai macam modelnya, baik itu untuk mereka yang sudah terbiasa mengenakan dasi, maupun bagi mereka yang pemula,” ungkapnya.

Labih jauh ia mengatakan, dasi yang banyak diburu pria adalah dasi yang memiliki motif bergaris miring yang tersedia dalam berbagai warna. “Pria yang sudah terbiasa menggunakan dasi, mereka pasti sudah tahu,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: