Cinta tidak pernah meminta


Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.~ Mahatma GhandiTuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.Ada 2 titis air mata mengalir di sebuah sungai. Satu titis air mata tu menyapa air mata yg satu lagi,” Saya air mata seorang gadis yang mencintai seorang lelaki tetapi telah kehilangannya. Siapa kamu pula?”. Jawab titis air mata kedua tu,” Saya air mata seorang lelaki yang menyesal membiarkan seorang gadis yang mencintai saya berlalu begitu sahaja.”Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu.Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -HamkaCinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.Tuhan ciptakan 100 bahagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bahagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana takut anaknya terpijak.Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta !Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ HamkaKata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinyaCinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.

Sumber

Kesetiaan

Dalam satu riwayat disebutkan satu percakapan yang menarik antara Abu Bakar r.a dan anaknya. Sebagaimana difahami, salah seorang anaknya Abu Bakar yang laki-laki masuk Islamnya belakangan setelah perang Badar. Sehingga di saat perang Badar si anak berperang di pihak musyrikin, melawan bapaknya yang berperang bersama kaum mukminin. Berkatalah si anak:

“Wahai bapak, dulu di saat perang badar, aku memiliki kesempatan untuk membunuhmu, dan aku yakin jika aku lakukan maka engkau pasti sudah terbunuh.”

“Lantas apakah yang menghalangi dirimu untuk melakukannya wahai anakku?” tanya Abu Bakar.

“Aku masih memiliki rasa sayang kepadamu. Itulah yang membuat diriku ragu.”

“Itulah sifat kemusyrikan wahai anakku. Loyalitas dan kesetiaan kepada tuhan kalian bisa kalah dengan kecintaan kalian pada yang lain. Sungguh jika aku berada di posisimu saat itu, sudah aku tebas lehermu.”

Salah seorang sahabat Nabi saw yang digelari “Orang Kepercayaan Umat ini” yang gigi seri depannya rontok karena mencabut besi yang menancap di pipi Nabi saw, dan merupakan Panglima Besar Islam, adalah seorang yang tadinya senantiasa menghindari bapaknya di medan perang, karena bapaknya berperang dipihak musyrikin. Dengan kemantapan hati dan kecintaan kepada tauhid, akhirnya dibunuh jugalah bapaknya di medan peperangan. Beliau adalah Abu Ubaidah ibnul Jarrah.

Dalam satu riwayat disebutkan juga, bahwa Umar bin Khathab menyatakan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya melebihi apapun yang ada di dunia ini kecuali dirinya. Jadi kecintaan pada dirinya masih nomor satu, barulah diikuti kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Halini dijawab oleh Nabi saw, bahwa tidak sempurna iman seseorang sebelum dia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun di dunia ini, bahkan terhadap dirinya sendiri.

Jika sampeyan perhatikan, ada yang hilang dari kehidupan beragama dari umat Islam,yakni kesetiaan atau loyalitas. Beragamanya orang-orang yang telah diridhoi Allah, yakni para shahabat Nabi, adalah beragama yang disertai loyalitas pada apa yang diyakini. Beragamanya orang saat ini, apapun agamanya, selalu diikuti loyalitas pada kebesaran nafsunya. Mengaku menyembah Allah tapi loyalitas hidupnya diserahkan pada keluarga, pangkat, jabatan, partai, bendera golongan, demokrasi, selangkangan wanita, perut, pluralisme, dan segala tetek bengek yang diringkes oleh Al Qur’an dengan nama Thaghut.

Dahulu kala, di saat Nabi mengajarkan ajaran wahyu, ada juga si bangsat Musailamah yang mengaku menerima wahyu. Di saat Nabi menerima surat Al Ashr, Musailamah mengaku menerima surat Al Wabr. Di masa kekalifahan Abu Bakar dibentuklah laskar khusus yang dikirim untuk membasmi para bangsatwan. Sang Nabi palsu bangsat Musailamah laknat dipenggal oleh salah seorang saudara Umar bin Khathab. Inilah loyalitas. Kesetiaan pada keyakinan.

Sesungguhnya semua orang memiliki loyalitas. Semua orang mempunyai kesetiaan pada sesuatu. Sabda Nabi mengatakan, “Ad Diinu Nasihah”. Agama itu Nasihah. Nasihah di sini seringkali diartikan nasehat atau wejangan atau petuah. Jika melihat isi keseluruhan haditsnya, makna itu kurang tepat. Nasihah lebih pas jika dimaknai “kesetiaan.”

Agama itu kesetiaan. Kepada siapa? Kepada Allah, Rasul, Kitab, Imam kaum mukminin dan pada umat keseluruhan.

Sudahkah kesetiaan sampeyan diletakkan pada ad diin (agama)? Atau sampeyan letakkan pada karir, jabatan, pangkat, keluarga, golongan, suku, blog, traffic, adsense, rating, rokok, tuak, sosialisme, humanisme, demokrasi, kesetaraan gender …. Atau thaghut??

Berapa kali sampeyan telat masuk kantor dan bandingkan dengan berapa kali sampeyan telat sholat jamaah lima waktu?? Lebih loyal pada apa sampeyan?

Sumber

Jika Ia Sebuah CINTA

Jika ia sebuah cinta……
ia tidak mendengar…
namun senantiasa bergetar….

Jika itu sebuah cinta..
Memang sakit melihat orang yang ku cintai ..
Berbahagia dengan orang lain ..
Tapi lebih sakit lagi kalau orang ku cintai itu ..
Tidak berbahagia bersama ku..

Jika itu cinta..
Ia sering kali lari bila kita cari..
Namun cinta juga sering kita biarkan pergi ..
Saat dia menghampiri. .

Jika ia sebuah cinta…..
Ia tidak buta..
Namun senantiasa melihat dan merasa..

Jika itu cinta..
Maka jika ku jatuh aku tidak terhuyung-huyung. .
Konsisten tapi tidak memaksa..
Berbagi dan tidak bersikap tidak adil..
Mengerti dan mencoba untuk tidak banyak menuntut..
Sedih tapi tidak pernah menyimpan kesedihan itu.

Jika ia sebuah cinta…..
Ia tidak menyiksa..
Namun senantiasa menguji…

JIka itu cinta
Ia seperti kupu-kupu. ..
Tambah dikejar, tambah lari..
Tapi kalau dibiarkan terbang..
Dia akan datang di saat kamu tidak mengharapkannya. .

Jika itu cinta..
Aku seharusnya dapat melepaskannya
Untuk merelakannya. .
Berbahagia dengan yg lain..

Jika itu Cinta ..
Maka cinta akan berharga ..
kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya. .

Jika itu cinta..
Bukan bagaimana menjadi pasangan yg sempurna…
Tapi membiarkan kita menjadi diri sendiri..
Dan oleh karenanya kita menjadi sempurna..

Jika ia sebuah cinta…
Ia tidak memaksa..
Namun senantiasa berusaha..

Jika ia sebuah cinta…..
Ia tidak cantik atau ganteng..
Namun senantiasa menarik..

Jika ia cinta..
Bukan karena kau cantik atau ganteng..
Maka aku mencintaimu. .
Tapi karena aku mencintaimu. .
Maka kau selalu terlihat cantik dan ganteng..

Jika itu cinta..
Ia akan mulai dengan senyuman,
Tumbuh dalam pelukan
Dan siap jika harus berakhir dengan airmata.

Jika itu cinta
Ia tidak berkata, “Ini salah kamu”,
Tapi ‘Maafkan aku”.
Bukan juga ‘ Kamu dimana sih?”,
Tapi ” Aku disini “.
Tidak berkata ” Gimana sih kamu?”
Melainkan “Aku mengerti kok”.
Bukan “Harusnya kamu gak kayak gini”,
Tapi “Aku cinta kamu seperti kamu apa adanya”.

Jika ia sebuah cinta…..
Ia tidak datang dengan kata-kata..
Namun senantiasa menghampiri dengan hati..

Jika itu cinta..
Memang menyakitkan ketika aku tak dapat bersatu dengannya
Tapi akan lebih menyakitkan lagi
Apabila dia tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan..

Jika ia sebuah cinta…..
Ia tidak terucap dengan kata..
Namun senantiasa hadir dengan sinar mata..

Jika itu cinta..
Memang menyakitkan mencintai orang yang tidak mencintaimu. .
Namun lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang..
Dan engkau tidak pernah punya keberanian untuk menyatakan cintamu padanya..

Jika ia sebuah cinta…..
Ia tidak hanya berjanji..
Namun senantiasa mencoba dan memenuhi..

Jika itu cinta..
Maka itu hanya sekeping..
Tidak seperti mata dan telinga..
Yang hampir selalu berpasang pasangan..
Karena Tuhan memberikan sekeping hati lainnya..
Pada seseorang untuk kita mencarinya, itulah Cinta.

Jika ia sebuah cinta…..
Ia mungkin tidak suci..
Namun senantiasa tulus..

Jika itu Cinta…
Engkau masih bisa tersenyum ..
Dan berkata aku turut berbahagia untukmu..
Ketika dia memilih mencintai orang lain..

Jika ia sebuah Cinta…..
Ia tidak hadir karena permintaan..
Namun hadir karena ketentuan…

Jika itu Cinta
Ia datang kepada orang yang masih punya harapan ..
Walaupun ia pernah dikhianati..

Jika itu Cinta..
Ia hadir kepada mereka yang masih percaya…
Walaupun ia pernah dicampakkan. .

Jika itu Cinta..
Ia tumbuh di hati mereka yang masih ingin mencintai..
Walaupun ia pernah dihempaskan

JIka itu Cinta..
Ia berkembang di relung hati ..
Mereka yang punya keberanian dan keyakinan ..
Untuk membangun kembali kepercayaan. .

Jika ia sebuah Cinta…..
Ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan…
Namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan…

Jika itu Cinta..
Ia akan membiarkan orang yang kamu cintai ..
Menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya ..
Menjadi gambaran yang kamu kehendaki..

~~YA TUHAN, ajarkan aku mencintai orang lain, walaupun dia sudah menyakiti bahkan memilih untuk tidak bersamaku.

Berkorban tapi tidak menuntut;
Memberi tapi tidak memaksa;
Mencintai tanpa pamrih;

MAMPUKAH AKU? MAMPUKAN AKU TUHAN..

Supaya dapat..berkorban tapi tidak menuntut;
Memberi tapi tidak memaksa;
Mencintai tanpa pamrih;

Mana lebih mudah, buat kerja Akhirat atau kerja dunia

Tidak ada manusia yang dapat menolak bahwa hidup di dunia ini adalah sementara waktu. Di akhir zaman ini paling lama manusia boleh hidup, menurut waktu dunia, 150 tahun. Setelah itu semua orang dipercaya akan mati, setelah mati pergi ke Akhirat. Ramai orang yang percaya, sangat sedikit yang tidak percaya.

Di dalam tulisan saya ini, fokus saya adalah untuk umat Islam, bahwa umat Islam memang percaya Akhirat itu wujud, tempat tinggal manusia yang kekal abadi. Di sana ada kesenangan/kemudahan dan ada kesusahan seperti di dunia juga ada kesenangan, ada kesusahan, hanya saja kesenangan dan kesusahan di antara dunia dengan Akhirat tidak sama. Kalau kita hendak membuat perbandingannya, walaupun tidak tepat, agar mudah faham, kalau kesenangan, seperti kita hidup berumah di atas pohon dibandingkan dengan hidup di dalam istana, kalau azabnya, seperti digigit semut dibandingkan dengan dimakan oleh singa yang garang.

Pembatas antara dunia dengan Akhirat adalah alam kubur atau alam barzakh. Di sana kita di tahan sementara waktu. Di sana juga ada kesusahan dan ada kesenangan seperti di dunia juga. Perbandingannya seperti perbatasan di antara dua negara. Di perbatasan antara dua negara ada waktunya mendapat kesenangan dan ada waktunya mendapat kesusahan. Begitulah keadaannya di perbatasan antara dunia dengan Akhirat, yaitu alam kubur atau alam barzakh.

Walaupun umat Islam percaya negara Akhirat serta percaya alam barzakh, perbatasan di antara dunia dan Akhirat dan juga percaya bahwa nikmat dan azab di sana sangat jauh berbeda dengan nikmat dan azab di dunia. Seandainya saat ini Allah Taala beri kesempatan pada manusia untuk merasakan perbandingan itu nescaya manusia akan menolak dunia ini secara total dan akan bertumpu seratus persen untuk tujuan Akhirat.

Namun karena manusia itu hidup di dunia lebih dulu, yaitu hidup di negara yang dekat dan murah ini, mereka berhadapan dan merasakan nikmat dan azabnya lebih dahulu sebelum nikmat dan azab Akhirat, manusia terpesona hidup di sini. Mereka menjadi lalai, mereka teralit, terlupa kehidupan di sana yaitu negara Akhirat. Karena itu mereka bersungguh-sungguhlah mengejar nikmat dunia dan mengelakkan azab di dunia ini. Diperas otaknya, tenaganya pagi dan petang, siang dan malam, dengan tidak jemu-jemu walaupun susah tapi dapat dihadapinya kesusahan itu.

Walau menghadapi berbagai macam tantangan, manusia sanggup menanggungnya. Adakalanya ingin mengejar keuntungan, yang didapat rugi, inginkan kemudahan, susah yang didapat. Kebahagiaan yang dikejar, penderitaan yang datang. Kebaikan yang diburu, kemalangan yang dijumpai. Namun manusia tidak jemu-jemu, tidak rasa kecewa dan tidak putus asa, menggunakan tenaga yang ada, buru lagi dunia. Hingga ruangan untuk Akhirat tidak ada sama sekali atau tenaga yang tinggal sedikit, baru untuk Akhirat, itu pun mudah jemu, terasa susah, terasa membebani, terasa terhina, terasa malu dalam melakukannya.

Padahal di dalam pengalaman kita, mengejar Akhirat yang lebih penting dengan dunia yang tidak penting, Akhirat yang istimewa dengan dunia yang murah ini, sangat jauh perbedaan amalan Akhirat. Walau penting, Allah Taala mudahkan, itulah di antara rahmat-Nya agar manusia cenderung ke sana, tapi dunia yang murah, amalannya lebih susah supaya manusia mengambil enteng dan kecil saja dunia ini. Seharusnya seperti itu.

Tapi pada manusia rupanya tidak begitu, manusia lebih merasa susah membuat kerja-kerja Akhirat walaupun sebetulnya mudah dibandingkan dengan kerja-kerja dunia yang susah itu. Tapi pada manusia dirasakan ringan saja dan mudah. Itulah bukti tarikan dunia lebih mempengaruhi umat Islam walaupun kerja-kerjanya susah dan berat dibandingkan dengan tarikan Akhirat yang istimewa dan agungwalaupun kerja-kerjanya mudah dan ringan.

Mari kita lihat beberapa contoh-contoh yang menunjukkan kerja-kerja dunia itu susah dan berat, tapi ringan pada manusia karena tarikannya kuat dan kerja-kerja Akhirat itu mudah dan ringan tapi umat Islam merasakan susah dan berat karena tarikannya dingin. Saya sebutkan beberapa hal sebagai perbandingan seperti di bawah ini.

1. Mana yang lebih berat, sembahyang Subuh dua rakaat selama 20 menit -30 minit, dengan kerja 8 jam satu hari? Karena mencari duit, adakalanya kerja buruh, sangat berat, namun ada umat Islam tidak sanggup sembahyang Subuh sekadar 20-30 minit tapi tidak jemu-jemu bekerja satu hari 8 jam karena mencari duit.
2. Mana yang lebih berat menolong kawan karena Allah Taala mungkin sekadar satu dua jam dibandingkan walkathon(hiking) berjam-jam, kadang-kadang terpaksa naik bukit, menyeberang sungai, menurun lurah karena nama dan ketenaran. Lebih susah walkathon tapi mudah sahaja manusia boleh buat. Menolong kawan amat terasa berat.
3. Mana yang lebih berat antara memberi maaf kepada orang yang disuruh oleh Allah Taala dengan naik gunung Kinabalu karena nama dan glamour. Padahal tidak panjat gunung Kinabalu bukan satu kesalahan tapi orang lebih mampu memanjat gunung daripada memberi maaf yang merupakan perintah Allah.
4. Pergi sholat berjemaah tidak makan waktu yang panjang pun. Tidak juga terlalu jauh karena perintah Allah Taala dan juga tidak meletihkan. Dibandingkan hendak berekreasi dan membuang-buang masa bergaul bebas di tempat yang jauh mungkin di hutan, di tepi laut, disungai, yang banyak membuang uang, waktu dan akan berhadapan dengan keletihan. Namun orang tidak sanggup pergi sembahyang jemaah tapi sanggup pergi berekreasi. Adakalanya sampai di rumah cekcok pula dengan isteri karena sakit hati dengan suami.
5. Pergi belajar ke Amerika bertahun-tahun lamanya karena menginginkan ijazah agar dapat gaji yang tinggi, meninggalkan orangtua, tanah air, mengeluarkan uang, terkadanga ada yang mati di sana. Mana yang lebih susah dengan belajar agama di masjid sekadar satu jam untuk membaiki diri, tidak terkorban waktu dan uang, tidak tinggal keluarga dan tanah air.
Tentulah lebih susah kesusahan belajar di Amerika dibandingkan belajar di masjid sekadar satu jam. Namun ke Amerika sanggup, pergi ke masjid tidak mampu pergi.
6. Mana lebih berat hendak melayan dengan ibu ayah sekadar mungkin satu dua jam kemudian ibu bapa bagi makan, pakaian dan lain-lain, dibandingkan hendak melayan dan berkhidmat dengan kekasih/pacar berjam-jam lamanya, berhari-hari, menghabiskan uang, kalau terlihat orang dapat malu juga. Terkadang dia tidak jujur, di belakang kita ada ‘pacar’ yang lain. Tentu lebih susah berkhidmat dan melayan pacar daripada ibu dan ayah. Namun orang tidak sanggup berkhidmat dengan ibu ayah tapi lebih sanggup berkhidmat dengan pacar walaupun susah dan melelahkan.
7. Mana lebih berat, hendak menderma kepada kelab-kelab hiburan dan mengarut, setidaknya seribu ringgit, kalau tidak jatuh status, dengan hendak menderma dengan fakir miskin hanya sepuluh dua puluh ringgit. Tentulah lebih berat menderma ke kelab-kelab hiburan dan mengarut itu daripada hendak bersedekah dengan fakir miskin sekadar sepuluh dua puluh ringgit. Namun rasanya berat untuk bersedekah, tapi menderma seribu karena nama, sanggup. Adakalanya isteri tahu, kena maki juga akhirnya dengan isteri, tapi sanggup berhadapan dengan resikonya.
8. Yang mana yang lebih menghabiskan waktu atau menyusahkan, menonton film yang merosakkan akhlak atau membaca buku novel yang mengarut boleh sampai berjam-jam, kadang-kadang bergaduh dengan ibu bapa atau suami dan isteri, atau berzikir atau membaca Al Quran selama 30 menit. Tentu menonton film mengarut atau membaca novel mengarut hingga boleh bergaduh daripada berzikir atau membaca Al Quran sekadar 30 menit. Namun orang sanggup menonton filem atau membaca novel daripada berzikir atau membaca Al Quran.
9. Mana lebih susah, pergi berjudi atau pergi disko sambil minum minuman keras, terkorban waktu, uang, bergaduh selepas itu dengan isteri hingga kocar-kacir rumahtangga, atau menolong jiran yang susah hanya sekali-sekali yang boleh menimbulkan kasih sayang. Tentu menolong jiran lebih mudah tapi orang tidak sanggup berbuat, orang lebih sanggup berjudi, dan pergi disko dan minum minuman haram hingga berantakan rumahtangga, hingga bergaduh dan berhutang.
10. Orang-orang yang ramai masuk penjara, kena bunuh, kena fitnah, kena tangkap, diberi malu, dihina dan dicaci-maki oleh orang, mana lebih banyak disebabkan mencuri, menipu, membunuh, memperkosa, berzina, merampok, suap-menyuap, memperjuangkan ideologi, daripada orang-orang yang disebabkan mencari rezeki yang halal dan memperjuangkan Islam. Sudah tentu yang mencari rezeki yang halal dan karena memperjuangkan Islam terlalu sedikit dibandingkan disebabkan melakukan kejahatan tapi karena kejahatan atau dunia, sanggup menerima resiko yang berat. Tapi kalau kebaikan dan kebenaran tidak sanggup melakukannya.

Setelah kita menjabarkan dan membuat perbandingan di antara kerja-kerja Akhirat dengan kerja-kerja dunia, kerja-kerja dunia yang bersifat mungkar dan bermaksiat lebih susah dan lebih berat resiko yang diterima apabila dilakukan darpada kerja-kerja halal dan kerja-kerja Akhirat. Namun demikian orang tidak sanggup membuat kerja-kerja Akhirat walaupun mudah dibandingkan membuat kerja-kerja dunia walaupun susah dan memberatkan.

Di sini dapat dilihat bahwa umat Islam hatinya lebih cenderung dengan dunia daripada Akhirat walaupun dunia itu murah dan sementara waktu dibandingkan dengan Akhirat yang istimewa dan kekal abadi. Tepat sekali kata pepatah Melayu, cinta itu buta. Cinta kepada apa pun jadi buta, yang lain tidak kelihatan lagi, yang lain walaupun cantik dan istimewa tidak akan diperhatikan lagi. Seperti orang sudah jatuh cinta pada seorang perempuan atau seorang laki-laki, lupa yang lain, lupa ibu bapa, lupa adik beradik, lupa makan minum, tak serius bekerja dan lain-lain lagi. Dan karena cintanya itu sanggup bersusah payah dan sanggup menerima resiko yang berat.

Begitulah orang yang sudah cinta dan jatuh hati dengan dunia, lupa Akhirat, sanggup bersusah payah dengan dunia, sanggup menerima resiko yang berat walaupun harus mati karenanya. Untuk Akhirat walaupun istimewa, mudah pula, senang membuatnya, namun berat rasanya untuk dilakukan karena tidak cinta.

Setelah kita mengkaji bahwa kerja-kerja dunia lebih susah dan berbahaya, lebih berat dan resikonya lebih tinggi daripada kerja Akhirat, apakah hujah dan alasan kita nanti di hadapan Tuhan di Akhirat kelak. Tidak ada hujah dan alasan yang sebenarnya. Maka banyaklah manusia yang masuk Neraka daripada yang masuk ke Syurga.

« Older entries